Monday, 22 September 2014

Berita Bitcoin Penyebaran ATM Bitcoin Bakal Makin Luas

  Perusahaan Robocoin selaku penyedia mesin anjungan tunai mandiri (ATM) untuk Bitcoin, menyatakan Selasa (17/2/2014) bakal memasang mesin ATM pertama untuk Bitcoin di Amerika Serikat. Mesin itu akan dipasang di Seattle dan Austin.

Mesin ini memungkinkan pengguna dalam membeli atau menjual mata uang digital Bitcoin. Mesinnya mirip seperti ATM pada umumnya, namun ia memiliki sensor pemindai yang akan membaca identifikasi kartu penduduk atau paspor untuk mengkonfirmasi identitas pengguna.

Selain itu, ATM ini memungkinkan pengguna menyetor uang tunai atau mentransfer Bitcoin dari atau kepada dompet virtual Bitcoin lain.

Sebelumnya, Robocoin telah memasang mesin ATM Bitcoin pertamanya di Vancouver, Kanada, pada musim gugur 2013. Mereka juga akan mengoperasikan satu mesin Bitcoin berikutnya di Calgary, Alberta, Kanada, pada akhir Februari 2014.

Robocoin, yang berbasis di Las Vegas, juga berencana memasang ATM Bitcoin di kawasan Asia dan Eropa.

Setiap mesin Bitcoin nantinya dikelola oleh sebuah operator, termasuk perusahaan Bitcoin di suatu negara.

Mata uang digital Bitcoin diluncurkan pada tahun 2008 dan diperdagangnkan dalam jaringan internet global. Bitcoin bersifat desentralisasi, tidak diatur oleh sebuah bank sentral ataupun pemerintah manapun.

Saat ini, satu Bitcoin dinilai seharga 636 dollar AS. Akan tetapi, nilai Bitcoin sangat fluktuatif, dipengaruhi oleh permintaan dan sentimen pasar.

Kantor berita Reuters mencatat, satu Bitcoin pada September 2013 nilainya berkisar 150 dollar AS. Lalu pada akhir Desember 2013 nilainya meroket menjadi di atas 1.000 dollar AS.

Nilai Bitcoin sempat anjlok pada 10 Februari 2014 setelah bursa Mt. Gox asal Tokyo, Jepang, merilis pengumuman sedang menangguhkan penarikan Bitcoin karena "terdeteksi aktivitas yang tidak biasa pada dompet Bitcoin dan sedang dilakukan penyelidikan selama beberapa pekan terakhir. Ini mengkonfirmasikan adanya transaksi yang perlu diperiksa lebih dekat."

Di platform Mt. Gox, nilai Bitcoin sempat jatuh ke level 592 dollar AS pada 10 Februari 2014 waktu Jepang, turun 27 persen dari harga tanggal 7 Februari sebesar 692 dollar AS.


Sumber: http://tekno.kompas.com/read/2014/02/19/0728009/Penyebaran.ATM.Bitcoin.Bakal.Makin.Luas

Berita Bitcoin Kebat-kebit di Balik Manisnya Bitcoin


Bitcoin (REUTERS/Jim Urquhart)
Jakarta, GATRAnews - Jauh-jauh dari London, Kolin Burges datang ke Tokyo dengan hati risau. Itu karena ia tidak bisa mengakses bitcoin miliknya yang dikelola Mt. Gox. Perusahaan yang berbasis di Jepang itu tidak memberi penjelasan yang memadai sehingga mantan programer komputer itu khawatir dengan nasib bitcoin yang disimpannya. Nilainya tidak sedikit, setara dengan US$ 173.000. Burges ingin Mt. Gox mengembalikannya. 
Dia berdiri di depan kantor Mt. Gox dengan pamflet bertuliskan tuntutannya. Aksi Burges itu berakhir sia-sia. Dia kembali ke London dengan tangan hampa. Mt. Gox "tenggelam" membawa uangnya. Namun, aksinya di pekan terakhir Februari itu mengundang liputan media, lalu membuat kasus Mt. Gox menjadi sorotan dunia. 

Sepanjang pekan terakhir Februari itu, pengurus Mt. Gox cenderung diam seribu bahasa dan memutus komunikasi dengan investor. Kebisuan itu pecah ketika Mark Karpeles, CEO Mt. Gox, membuat pernyataan maaf di Pengadilan Distrik Tokyo, Jumat sore pekan lalu. 

Wajah kuyunya tidak bisa disembunyikan. Dia membungkuk dan mengucapkan maaf dalam bahasa Jepang. Dia mangaku perusahaannya ambruk karena kelemahan sistem keamanan. 

Didampingi pengacaranya, Karpeles menyatakan perusahaannya bangkrut dan meminta perlindungan hukum. Saat itu baru terungkap jika Mt. Gox kehilangan 750.000 bitcoin milik konsumennya, plus 100.000 bitcoin milik perusahaan. 

Nilainya sekitar US$ 493 juta (Rp 5,7 trilyun) jika kurs 1 bitcoin setara US$ 580 (berdasarkan data coindesk.com saat berita ini ditulis). Jumlah itu sekitar 7% dari total bitcoin yang beredar sekarang. 

Karpeles menuding hilangnya bitcoin itu gara-gara peretas menjebol sistem keamanan komputernya. Dengan memanfaatkan kelemahan itu, peretas bisa membuat situasi seakan-akan pengiriman bitcoin yang dipesan gagal. Karena sistem menganggap gagal, Mt. Gox akan mengirim sekali lagi. 

Akio Shinomiya, pengacara Karpeles dari Kantor Hukum Yodoyabashi & Yamagami, mengatakan, Mt. Gox berniat mengajukan tuntutan hukum terkait dengan kejahatan peretas yang mencuri bitcoin. 

Namun tidak ada pasal hukum yang bisa dipakai sebagai sandaran. Dalam dokumen pengajuan pailit, Mt. Gox melaporkan kewajiban sebesar 6.5 milyar yen (US$ 63,67 juta), sementara total asetnya 3,84 milyar Yen. 

Mt. Gox memiliki 127.000 investor, 1.000 di antaranya berasal dari Jepang. Dengan mengajukan perlindungan pailit, Mt. Gox bisa menunda pembayaran utang-utangnya dan terhindar dari penagihan paksa kreditur. 

Namun penjelasan Mt. Gox ini tidak bisa diterima semua orang. Menurut mereka, perlu dipastikan apakah uang itu hilang dicuri atau salah urus. Diperkirakan, butuh waktu berbulan-bulan bagi auditor untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya. 

''Kemungkinan yang paling besar, ini akibat tata kelola yang sangat-sangat buruk,'' ujar Nicolas Christin, peneliti keamanan komputer di Carnegie Melon University. 

Hal itu pula yang mendorong lahirnya upaya class action melawan Mt. Gox pasca-pengumuman pailit tersebut. Class action itu disiapkan Selachii LLP, sebuah firma hukum di London yang mewakili 200 orang investor Mt. Gox yang berasal dari Cina, Kanada, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa. 

Salah satu investor kehilangan 4.000 bitcoin yang nilainya sekitar US$ 2,3 juta. Mereka mengincar harta pribadi Mark Karpeles untuk mengganti kerugian. Induk perusahaan Mt. Gox, Tibanne, yang didirikan Mark Karpeles, juga digugat.

Menurut Richard Howlett dari Selachii, pengadilan akan memaksa Mt. Gox dan Karpeles untuk membuktikan bahwa bitcoin dalam jumlah besar itu memang telah diretas. 

''Saya tidak tahu apakah benar mereka telah diretas. Tidak seorang pun yang tahu. Hal itu yang akan terungkap di pengadilan. Saya akan terkejut jika mereka memang benar-benar telah diretas begitu saja,'' kata Howlett. 

Jika tuntutan hukum ini berlanjut, akan sangat menarik untuk melihat apakah ganti ruginya dalam bentuk bitcoin atau uang konvensional.

Sumber: http://www.gatra.com/fokus-berita/48619-kebat-kebit-di-balik-manisnya-bitcoin.html

Sunday, 21 September 2014

Berita Bitcoin Meluruskan Berita Seputar Deposit Melalui Indomaret

Bersama dengan press release ini kami dari PT Bitcoin Indonesia ingin meluruskan pemberitaan yang menyimpang di media massa mengenai kerjasama antara Bitcoin Indonesia dengan Indomaret
Sehubungan pemberitaan melalui email broadcast yang kami berikan hanya kepada member Bitcoin Indonesia bahwa sebenarnya PT Bitcoin Indonesia bekerjasama dengan iPaymu.com yang memfasilitasi pembayaran melalui Indomaret. Kami tidak berkerjasama dengan Indomaret secara langsung. Tetapi sistem tersebut tidak kami lanjutkan per tanggal 4 September 2014 bersangkutan dengan keberatan dari pihak lain.
Berita mengenai tersedianya voucher di Indomaret tidaklah benar dan kami tidak pernah memberitakan hal itu. Kami harapkan rekan media bisa membantu meluruskan berita tersebut.
Kami meminta maaf kepada seluruh manajemen Indomaret apabila hal ini menimbulkan ketidaknyaman dan secara tidak sengaja menimbulkan kesalahpahaman dari media terhadap adanya kesan kerjasama Bitcoin Indonesia dengan Indomaret.
Hormat kami
Oscar Darmawan
CEO Bitcoin Indonesia